Stabilisasi Lereng dengan Selimut Pengendali Erosi

Stabilisasi Lereng dengan Selimut Pengendali Erosi

Bagikan Artikel Ini:

Stabilisasi lereng dengan cara menanam vegetasi baru diatas lereng sebagai selimut pengendali erosi menggunakan metode Hydroseeding dan Taplok. Lalu apa yang dimaksud dengan stabilisasi dengan selimut pengendali erosi tersebut, simak informasi selengkapnya di bawah ini.

Apa itu Stabilisasi Lereng?

Stabilisasi lereng atau stabilitas lereng adalah kondisi atau keadaan yang mantab dan stabil terhadap bentuk atau dimensi lereng pada kemampuan tanah menahan tekanan dan kekuatan geser tanah.

Dikutip dari halaman Binamarga Kementerian PUPR, solusi untuk stabilisasi dan pengendalian erosi lereng dapat menggunakan teknologi penanaman vegetasi pada lereng dengan metode Hydroseeding dan Taplok.

Penanaman vegetasi yang dimaksud dengan cara menanam vegetasi baru yang sudah tumbuh atau dalam bentuk biji. Sebelum penanaman vegetasi, permukaan lereng harus dipasang selimut pengendali erosi atau matras perkuatan agar vegetasi dapat tumbuh dengan baik.

Biji tanaman yang digunakan untuk stabilisasi lereng harus memenuhi persyaratan diameter biji sesuai dengan metode tanam yang digunakan, kemurnian minimal 90% atau sesuai dengan sertifikat produsen benih, daya kecambah minimal dan bebas dari hama penyakit tanaman.

Pengertian Selimut Pengendali Erosi, Hydroseeding dan Taplok

Apa yang dimaksud dengan selimut pengendali erosi, hidrosiding dan taplok. Simak penjelasannya pada informasi di bawah ini.

Penanaman Vegetasi di Lereng dengan Metode Hydroseeding dan Taplok
Penanaman Vegetasi di Lereng dengan Metode Hydroseeding dan Taplok

Selimut Pengendali Erosi

Selimut pengendali erosi atau erosion control blanket adalah material yang terbuat dari serat alami dengan Cocomesh dan serat polimer contohnya Geomat. Material cocomesh dan geomat ini sering digunakan oleh banyak kontraktor untuk proyek pengendalian erosi baik itu lereng bukit, jalan tol dan sesuai dengan kebutuhan dilapangan.

Sebagai informasi, kami CV. Mutu Utama Geoteknik merupakan supplier Geomat untuk pembuatan selimut pengendali erosi pada proyek stabilisasi lereng untuk penanaman vegetasi lereng.

geomat untuk stabilisasi lereng
Pemasangan Geomat untuk Stabilisasi Lereng

Kami melayani konsultasi pemilihan produk, penjualan, jasa pengiriman dan jasa pemasangan geomat yang menjangkau seluruh Indonesia. Hubungi tim Marketing Engineer kami melalui Whatsaap atau halaman kontak kami, untuk informasi penawaran harga dan lain-lain.

Hydroseeding

Hydroseeding atau hidrosiding merupakan  teknik penanaman atau penyebaran benih tanaman atau rumput yang sudah dicampur dengan media mulsa hidrosiding. Kemudian campuran atau adonan benih dan media hidrosiding disemprotkan menggunakan mesin hidrosiding ke permukaan lereng yang sudah dipasang Geomat.

Taplok

Tujuan dari penanaman vegetasi pada lereng baik dengan metode hidrosiding dan taplok yaitu untuk menutup permukaan lereng secara alami dengan vegetasi secara alami.

Dengan penanaman vegetasi diharapkan lereng dapat stabil dan kuat dalam menahan erosi permukaan. Karena vegetasi baru yang berupa rumput dan tanaman lainnya tersebut akan, batang dan daunnya dapat menahan aliran air dan hujan sehingga tanah tidak mudah erosi.

Taplok merupakan metode penanaman biji vegetasi dengan membuat campuran biji tananam dengan media mulsa serutan kayu, perekat, pupuk kandang dan pupuk anorganik dan air. Kemudian adonan benih ditanam diatas selimut pengendali erosi berupa Geomat yang sudah terpasang pada lereng.

Pelaksanaan Pekerjaan

Untuk pelaksanaan pekerjaan harus disesuaikan dengan prosedur yang tepat, berikut langkah-langkah dalam pekerjaan stabilisasi lereng menggunakan geomat atau cocomesh dan penanaman vegetasi mengggunakan metode taplok dan hidrosiding.

1. Persiapan

Sebelum pekerjaan pemasangan selimut pengendali erosi dan penanaman vegetasi, permukaan lereng harus dibersihkan terlebih dahulu dan diratakan sesuai perencanaan.

2. Pemasangan

Pemasangan selimut pengendali erosi dan matras perkuatan harus sesuai dengan rekomendasi pabrik. Dan tentunya sesuai dengan persetujuan pengawas pekerjaan.

3. Penanaman

Penanaman vegetasi dapat dilakukan secara mandiri atau sesudah penghamparan material pengendali erosi berupa Geomat atau Cocomesh. Tentu saat penanaman juga harus mempertimbangkan kondisi lapangan dan kondisi tertentu.

a. Penanaman Vegetasi dengan Teknik Hydroseeding

  • Tahap awal penanaman dengan cara teknik hydroseeding adalah dengan membuat campuran yang terdiri dari biji vegetasi, mulsa serutan kayu, perekat PAM, pupuk kandang dan pupuk buatan (anorganik). Kemudian campur dengan air dalam suatu tangki pencampur yang dilengkapi dengan alat pengaduk (agitator), mesin penyemprot, pompa, selang penyemprot dan nozzle. Proses pencampuran minimal membutuhkan waktu selama 30 menit.
  • Penyemprotan campuran hydroseeding pada permukaan lereng yang sudah dipasang Selimut Pengendali Erosi atau Matras Perkuatan dilakukan dari arah atas ke bawah atau arah menyamping secara horizontal dari arah kanan ke kiri atau sebaliknya.
  • Laju penyemprotan berkisar dari 1,5 -1,8 m2 det-1
  • Penyemprotan material hydroseeding sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan namun tidak diperkenankan selama hujan lebat, cuaca panas atau kondisi angin kering yang panas.
  • Lakukan penyiraman pada lereng yang sudah ditanami dengan teknik hydroseeding tersebut setiap 2 hari sekali sampai masa pekerjaan konstruksi berakhir. Bilamana terjadi hujan, penyiraman dihentikan.

b. Menanam Vegetasi dengan Metode Taplok

  • Tahap awal penanaman dengan cara teknik taplok adalah dengan membuat campuran yang terdari biji vegetasi, mulsa serutan kayu, perekat PAM, pupuk kandang dan pupuk buatan (anorganik) beserta air dalam suatu tangki pencampur yang dilengkapi dengan alat pengaduk (agitator) atau diaduk secara manual. Proses pencampuran minimal membutuhkan waktu selama 30 menit. Kebutuhan biji tanaman, mulsa serutan kayu, perekat PAM, pupuk dan air.
  • Taplok-kan campuran tersebut pada permukaan lereng yang sudah dipasang Selimut Pengendali Erosi atau Matras Perkuatan dengan jarak horizontal dan vertikal masksimum 20 cm antara mulsa.
  • Lakukan penyiraman pada lereng yang sudah ditanami dengan teknik taplok tersebut setiap 2 hari sekali sampai masa pekerjaan konstruksi berakhir. Bilamana terjadi hujan, penyiraman dihentikan.

Untuk informasi selengkapnya bisa dilihat di halaman Pengendali Erosi Lereng Kementerian PUPR.

Tujuan Penanaman Vegetasi Pada Lereng

Tujuan dari penanaman vegetasi pada lereng baik dengan metode hidrosiding dan taplok yaitu untuk menutup permukaan lereng secara alami dengan vegetasi secara alami., dikutip dari halaman Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI).

Dengan penanaman vegetasi diharapkan lereng dapat stabil dan kuat dalam menahan erosi permukaan.

Demikian informasi yang bisa kami rangkum terkait dengan upaya stabilisasi dan perkuatan lereng  agar lereng tidak mudah erosi. Simak informasi lainnya terkait teknologi pengendalian erosi dan perkuatan lereng hanya di Blog Mutu Utama Geoteknik. Terima kasih.

 

Artikel Terkait

Hubungi kami
Halo saya Dhany,
Ada yang bisa kami bantu?